Kasus ISPA di Jakarta Tembus 1,9 Juta, Ini Alasan Kenapa Balita Paling Berisiko!
Hikmah Ovita | 15 December 2025 20:00
Di tengah kesibukan kota Jakarta, kesehatan anak-anak kembali menjadi perhatian besar. Tingginya polusi udara dalam beberapa bulan terakhir disebut menjadi salah satu pemicu meningkatnya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terutama pada balita.
Data Dinas Kesehatan DKI Jakarta mencatat bahwa kasus ISPA menembus 1,9 juta kasus per Oktober 2024, tepatnya 1.906.579 kasus, dan terus bertambah setiap bulan. Kondisi ini menunjukkan bahwa masalah kualitas udara sudah masuk kategori serius dan berdampak langsung pada kelompok usia paling rentan. Inilah alasan kenapa balita paling berisiko.
Balita memiliki saluran napas yang kecil dan sistem imun yang masih berkembang, sehingga lebih mudah mengalami peradangan ketika terkena polusi, virus, atau bakteri. Penelitian menunjukkan imunitas balita belum mampu melawan paparan polusi sekuat orang dewasa.
Balita bernapas lebih cepat dibanding orang dewasa, sehingga menghirup partikel polutan lebih banyak dalam waktu singkat. Jika udara tercemar PM2.5 dan PM10, risiko ISPA dan iritasi saluran napas meningkat drastis.
Bukan hanya polusi luar, indoor pollution seperti asap dapur, asap rokok, tungku masak dengan bahan bakar padat, atau ventilasi buruk terbukti meningkatkan risiko ISPA pada balita hingga 7 kali lipat.
Jakarta termasuk kota dengan tingkat polusi tinggi akibat aktivitas transportasi, industri, dan pembakaran sampah. Polutan PM2.5 bisa masuk ke dalam rumah dan terperangkap di ruangan tertutup sehingga meningkatkan risiko ISPA pada balita.
Hunian padat, sanitasi buruk, status gizi rendah, dan kebiasaan merokok dalam rumah memperparah risiko balita terserang ISPA.
Karena sebagian besar waktu balita dihabiskan di dalam rumah, menjaga kualitas udara dalam ruangan menjadi langkah penting untuk menekan risiko ISPA. Ventilasi udara yang baik, menghindari asap rokok di dalam rumah, serta mengurangi asap masak dan debu dapat membantu menjaga saluran napas balita tetap sehat. Membersihkan rumah secara rutin juga penting agar partikel polutan tidak menumpuk di area yang sering disentuh atau dihirup anak.
Untuk perlindungan tambahan, penggunaan air purifier dengan filter HEPA dapat membantu menyaring partikel halus seperti debu, asap, alergen, dan PM2.5. Air purifier HEPA13 seperti Levoit Core 300s mampu menangkap polutan mikroskopis yang berbahaya bagi sistem pernapasan anak.
Sehingga udara di kamar tidur dan ruang bermain balita tetap aman. Dengan langkah pencegahan ini, risiko gangguan pernapasan pada balita bisa ditekan dan kualitas hidup mereka tetap terjaga.
Heboh! Bekasi Diguyur Hujan Debu Hitam, Dari Manakah Asalnya?
Ancaman Mikroplastik di Depan Mata! Berikut 5 Bahaya yang Perlu Kamu Ketahui
Dinkes DKI Catat 1,9 Juta Kasus ISPA, Situasi Makin Mengkhawatirkan
Apa Itu Mikroplastik dan Mengapa Bisa Turun Bersama Air Hujan
Kasus ISPA di Jakarta Tembus 1,9 Juta, Ini Alasan Kenapa Balita Paling Berisiko!