5 Dampak Anak yang Terkena Parentifikasi
Hikmah Ovita | 12 August 2025 17:40
Parentifikasi adalah situasi ketika anak harus mengambil peran orang tua—secara emosional maupun praktis—dalam keluarga. Bagi banyak orang, terutama anak perempuan, hal ini sering dianggap wajar. Anak yang "dewasa sebelum waktunya", "mandiri", atau "pengertian" justru dipuji, tanpa sadar bahwa di balik pujian itu ada beban yang tak seharusnya mereka pikul.
Ketika anak diminta jadi pendengar curhat orang tua, bertanggung jawab atas adik-adiknya, atau bahkan jadi penjaga perasaan orang dewasa, mereka kehilangan masa kecilnya. Dan dampak dari parentifikasi ini tak hanya dirasakan saat itu saja—ia ikut terbawa dalam cara anak tersebut tumbuh, mencintai, bekerja, dan memandang dirinya sendiri.
Berikut lima dampak jangka panjang yang sering muncul akibat parentifikasi:
Anak yang terbiasa memprioritaskan kebutuhan orang lain sejak kecil cenderung sulit mengidentifikasi emosinya sendiri. Mereka belajar untuk menekan marah, kecewa, atau sedih demi menjaga ketenangan rumah. Akibatnya, ketika dewasa, mereka kesulitan mengekspresikan perasaan dengan sehat, bahkan bisa merasa bersalah hanya karena merasa "lemah".
Parentifikasi membuat anak tumbuh dengan keyakinan bahwa tugas mereka adalah “menyelamatkan” orang lain. Mereka merasa bersalah saat orang di sekitarnya sedih, kecewa, atau terluka—meskipun itu bukan tanggung jawabnya. Ini bisa berujung pada pola hubungan yang tidak seimbang, di mana mereka terus memberi tanpa tahu bagaimana menerima.
Karena terbiasa mengorbankan diri sendiri untuk kebutuhan orang lain, anak yang terkena parentifikasi sering merasa tak enak jika harus berkata “tidak”. Mereka kesulitan membangun batasan sehat dalam relasi, takut dianggap egois, atau takut ditinggalkan. Ini bisa membuat mereka rentan terhadap relasi yang toksik atau manipulatif.
Memikul beban emosional sejak kecil membuat mereka terbiasa bekerja melebihi kapasitasnya. Mereka tumbuh menjadi pribadi yang selalu ingin “menyeleseikan semuanya sendiri”, menanggung terlalu banyak tanggung jawab, dan tak tahu cara beristirahat. Dalam jangka panjang, ini bisa menimbulkan kelelahan yang dalam—secara fisik, mental, dan emosional.
Anak yang terkena parentifikasi sering kali tak sempat mengenal siapa dirinya sebenarnya. Mereka tumbuh mengikuti ekspektasi dan kebutuhan orang lain, sehingga kehilangan arah tentang apa yang mereka inginkan, apa yang mereka sukai, dan seperti apa hidup yang mereka impikan. Proses menemukan kembali jati diri bisa terasa panjang dan menyakitkan.
Parentifikasi memang tak selalu tampak dari luar, tapi dampaknya bisa sangat dalam dan menetap. Namun kabar baiknya, luka ini bisa dipulihkan. Dengan kesadaran, bantuan profesional, dan lingkungan yang mendukung, kamu bisa mulai membebaskan diri dari beban yang bukan milikmu. Kamu berhak memilih untuk hidup lebih ringan dan merdeka secara emosional.
Dan kalau kamu sedang memulai perjalanan untuk menciptakan ruang aman bagi dirimu sendiri, mulai dari hal kecil seperti menciptakan suasana kamar yang tenang bisa sangat membantu. Gunakan air purifier seperti Levoit Core Mini atau Levoit LV-H128, yang cocok untuk kamar tidur dan bisa bantu menyaring udara agar kamu bisa bernapas lebih lega—baik secara fisik, maupun batin.
Karena setiap napas yang lega bisa jadi awal dari hati yang lebih tenang.
Heboh! Bekasi Diguyur Hujan Debu Hitam, Dari Manakah Asalnya?
Ancaman Mikroplastik di Depan Mata! Berikut 5 Bahaya yang Perlu Kamu Ketahui
Dinkes DKI Catat 1,9 Juta Kasus ISPA, Situasi Makin Mengkhawatirkan
Apa Itu Mikroplastik dan Mengapa Bisa Turun Bersama Air Hujan
Kasus ISPA di Jakarta Tembus 1,9 Juta, Ini Alasan Kenapa Balita Paling Berisiko!